Monday, January 23, 2012

SANDIWARA GELAS KACA

Terdengar sudah tak asing lagi jika media memberitakan tentang kalian. tapi kalaupun iya aku tak mengetahui apa ada payung besar yang memanfaatkan media untuk menjatuhkan kalian..mungkin ada yang lebih mengerikan dari kalian. lagipula buat apa juga aku tahu, toh aku harus memikirkan hidupku yang sudah susah..aku tak perlu bernasionalis ria di zaman seperti ini..egois memang..tapi aku terdidik seperti ini dan apa kata agama biarlah menjadi urusan pribadi masing-masing dengan Tuhannya. Jangan ingatkan orang kalau belum bisa ingatkan untuk diri sendiri. Pahala juga bukan hanya dari mengingatkan sesama. Upaya untuk merubah aku tidak tahu..menjadi seperti kalian aku tak suka. Aku sangat takut aku akan berevolusi menjadi mesin pembunuh saudara saudaraku. aku sangat takut aku akan dihancurkan saudara saudaraku sendiri ketika aku telah salah jalan karena mengingatkan bukan lagi menjadi sebuah kebiasaan bangsa santun nan ramah ini..tinggal saling menghancurkan untuk kepentingan golongan yang tersisa.
Ibarat sebuah pohon ia berakar tapi tak berbuah apa-apa, tidak ada perubahan kecuali kemunafikan yang harus terus menerus menjadi sarapan yang mau tidak mau harus kita makan. Gerak gerik dan mimik wajah penipu bagai sebuah tayangan yang hanya dengan mata kami dapat menyentuhnya.
Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran ....”Politik itu seperti lumpur kotor” aku rasa memang lumpur ini sudah lama tidak dibersihkan hingga berkerak dan seperti penyakit kronis yang menyebar bak virus flu babi. tak seorang pun yang berani menjamin dapat membersihkan kotoran yang ada di dalamnya. setan tamak dan angkuh panutan kalian terlalu kuat untuk dilawan..bahkan bermacam macam doa dan mantra dukun sakti aku rasa tak mempan. Terbesit dalam pikiran bodohku apa beda kalian dengan ayahku yang hanya seorang PNS, apa beda kalian dengan petani dan nelayan..sama-sama menjadi wakil manusia lainnya guna melengkapi kebutuhan bersama. Kalau tak ada wakil yang mengambil ikan saat angin darat berhembus apa iya setiap dari kita harus memancing saat ingin merasakan makan ikan? Kalau tak ada wakil yang menanam padi apa iya kita bisa makan nasi? Untuk apa kau harus mengekslusifkan diri..kuperhatikan kau duduk di kursi usang saja tak mau..bekerja di ruangan lama juga tak mau..haruskah kami rela tak bersekolah untuk membelikan kursi berkaki kaki indah berukir untuk sekedar kau taruh pantatmu lima menit dalam seminggu, Itu pun kalau kau hadir rapat yang membahas nasib kami. atau kalian juga mau kami hidup terus menerus dalam dinding kardus demi kalian dapat membangun istana.

No comments:

Post a Comment